Sabtu, 20 Januari 2018

Pacar Gelab Teman Ku

Pagi ini amat cerah, sebelum aku memulai pekerjaan ku, aku selalu menyempatkan diri untuk berolah raga sebentar. Aku biasa menyapa tetangga di pagi hari sambil menikmati lari pagi ku.
                Biasanya temanku jam segini juga sudah standby di luar rumah dan tidak kliru ia sudah ada di pinggir jalan. Ia adalah teman satu kantorku kami bekerja dalam satu devisi yang sama.
                Wajahnya begitu sumringah, begitulah ia selalu bahagia. Selesai lari pagi kami berangkat bareng kekantor, kami memang suka bercengkrama bahkan ketika di angkutan umum.
                Wajahnya yang tak lelah untuk tersenyum membuat ku penasaran karna bisanya dia gak seperti ini. Aku ingin tahu apa hal yang membuat ia begitu bahagia hingga wajahnya nampak se indah itu, pertanyaan demi pertanyaan aku lontar kan padanya. Ia menceritakan semuanya dengan ringan dan penuh dengan kebahagiaan.
                Tak kusangka ia punya pacar, aku sebagai temannya turut senang akan hal itu akhirnya dia gak menjomblo lagi. Ia memperlihatkan foto kekasihnya padaku yah… dia cantik dan sangat anggun sangat cocok dengan temanku yang tampan.
                Dua hari setelah itu tepatnya hari kamis aku terbiasa untuk berziarah ke makam ibu ku, sorenya aku bermaksud untuk mengajak temanku berziarah ke makam ibu ku soalnya kemarin katanya ia ingin sesekali menengok makam ibuku. Aneh tapi mungkin ini efek lagi kasmaran kali ya, ia menolak ajakan ku untuk ikut berziarah yah… namanya aja baru jadian.
                Akhirnya aku berangkat sendiri, ketika aku berjalan menjauhi temanku tiba-tiba ia memanggil ku, hum… apa dia brerubah fikiran ya? dan ternyata ia memanggilku hanya untuk menunjukkan foto pacarnya yang lagi nunggu di taman kemarin, hadeh… aneh-aneh aja ya kalo orang lagi kasmaran. Aku pun dengan sedikit bingung karna kelakar temanku memlui perjalaan ku menuju pemakaman di mana ibu ku di kebumikan, di perjalanan ku ke lokasi pemakaman aku seperti teringat sesuatu dengan foto wanita itu di taman tapi apa?, dari pada aku bingung aku fokus ke perjalanan saja.
                Sesampainya di pemakaman ku taburkan bunga di makam ibuku, denagn rasa suka cita ku lantun tiap bai surat yasin satu ketenangan yang membuatku teringat akan kasihsayang beliau yang tanpa batas melebihi tingginya langit dan dalamnya bumi. Selesai aku  berziarah aku berjalan kembali meuju tempat parkir, dalam perjalananku ke lokasi aku terhenti sejenak memperhatikan sebuah makam baru, makamnya begitu unik bagiku karna di makam itu terletak foto almarhum.
                Jika di lihat-lihat wanita yang meninggal itu sangat cantik dan anggun, terlihat dari raut wajahnya yang indah dan tanggal meninggalnya masih 2 minggu yang lalu, eh kalo tidak salah bukannya dua minggu lalu di tama nada seorang wanita cantik yang meninggal karna pembunuhan dan pemerkosaan ya.
                Sampai di parkiran aku mencoba menanyai ahli kunci pemakaman yang sedang membersihkan makam-makam dari rerumputan liar. Dan benar adanya, wanita yang aku lihat fotonya tadi adalah korban dari pembunuhan dan pemerkosaan, ia di bunuh dan di mutilasi, lantas setelah itu ia di buang di balakang tempat duduk pinggir taman. Kalau di fikir-fikir memang di tempat duduk sedelah selatan taman agak sepi karna dekat dengan pepohonan rimbun dan juga sungai, barang kali sang pembunuh mengira bisa menyembunyikannya di situ, di tambah ladi tempatnya yang ramai membuat sang pembunuh lebih bisa berkamo flase. Tapi kata bapak koncen sang pembunuh ini tergtangkap karna gila, pembunuh ini selalu dihantui wanita itu, hiii… ngeri juga cantik-cantik kok hantu.
                Lalu sang kuncen memberi tambahan cerita katanya ternyata pembunuh itu setelah tertangkap mengalami kejadian aneh. Ketika hendak di bawa ke mobil polisi ia meronta-ronta dan akhirnya lepas dari pengawalan polisi tapi hidupnya tak berlalu panjang. Naas memang sang pembunuh itu lari ke jalan raya dengan harapan bisa melompat ke parit di pinggir jalan raya dan belum sampai di pinggir jalan ia di tabrak truk bermuatan semen ending nya tubuhnya hancur sperti ia menghancurkan impian wanita yang ia mutilasi. Kok jadi makin ngeri ya, dan akhirnya dengan sedikir merinding aku berjalan pulang.
                Sebelum aku menaiki sepeda motor ku, aku memperhatikan makam wanita itu lagi dan entah fikiran dari mana aku teringat wanita yang di sayangi teman ku. Aku berlari mendekati makam itu lagi melihat seluruh detail raut wajahnya dan benar ia mirip sekali dengan wanita yang di sukai teman ku. Udah tadi ketakutan kini aku mulai panic, lantas aku langsung lari dan tancap gas sekencang-kencangnya aku harap temanku tak apa-apa.
                Pukul 17:00 sore menjelang mahrip aku sampai di taman di mana temanku ketemuan sama wanita yang di sukainya. Aku berlari menuju tempat duduk selatan taman, sesampainya di sana aku melihat kerumuman orang yang mengintari lokasi itu. Aku mendekat perlahan, makin aku dekat dengan kerumunan itu aku menemukan keanehan. Mereka seperti melihat sesuatu, aku makin berjalan mendekat, salah seorang dari kerumunan itu meihatku dan melambaikan tangannya pada ku seakan memanggilku untuk mendekat lagi.
                Saat aku bersama kerumunan itu, mereka membukakan jalan padaku dan saat aku melihat apa yang ada di bangku pinggir taman itu, tidak ada apa-apa. Ya tidak ada apa-apa di sana, merasa lega aku berjalan menjauhi kerumunan itu. Tak jauh dari lokasi itu aku bertemu seorang perempuan yang aneh, dengan wajah tertunduk ia berkata pada ku untuk tidak berbalik kebelakang.
                Ada suara dengungan HP, aku sangat hapal suara ini karna ini adalah HP ku. Aku lihat pada layar  HP ku, ini nomer teman ku. Perasaan lega makin terasa dan kini jiwaku mulai tenang. Aku angkat telfon temanku dan yang terdengan bukan suara yang menggembirakan. Suara rintihan kesakitan dan minta tolong, suara itu membuat kawatir dan mrinding. Aku berteriak mencoba menanyakan di mana lokasi temanku, fikiran ku yang tenang kemabali kalut lalu aku mulai curiga ketika HP ku muali mati, suara rintihan itu masih terdengar jelas.
                Aku mencoba untuk berbalik dan sekali lagi wanita di depan ku bilang untuk tidak berbalik, karna aku menghawatirkan teman ku, aku tak menghiraukan kata-kata wanita itu. Aku terkejut, bingung, takut, merinding semua bercampur aduk. Aku melihat temanku di bangku itu di cabik-cabik dengan kapak hidup-hidup oelh seorang wanita, dan wanita itu adalah orang yang sama yang terbunuh 2 minggu yang lalu wanita yang sama di foto pemakam tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar