Senin, 17 November 2025

Warisan Belanda yang Tak Pernah Pergi

Ada beberapa orang yang mengaku dirinya Salafi, dan sering merasa paling benar sendiri. Mereka mudah menyalahkan orang lain yang tidak sependapat—tahlilan dibilang bid’ah, maulid bid’ah, bahkan ziarah kubur pun dianggap bid’ah.

Tapi kalau dipikir lagi, di sisi lain kita hidup di negara yang sampai sekarang masih memakai KUHP peninggalan Belanda. Hukum yang dulu sengaja dibuat untuk mengekang, mengatur, dan dalam banyak hal memiskinkan rakyat Indonesia pada masa penjajahan.

Artinya begini: ketika mereka sibuk membidahkan sesama muslim, di saat yang sama mereka justru menerima dan menggunakan aturan yang jelas-jelas pernah membuat rakyat sengsara. Padahal dalam Islam, menyakiti atau menindas manusia lain itu dilarang. Jadi pertanyaannya, sebenarnya standar “bid’ah” yang mereka pakai itu berdasarkan apa? Nafsu? Arahan kitab? Atau sekadar ikut-ikutan?

Kadang aku jadi bertanya-tanya: jangan-jangan para penguasa yang ada di atas sana hanya meneruskan pola lama. Belanda pergi, tapi cara menjajahnya tetap diwariskan.

Karena faktanya, hukum yang dipakai untuk mengatur rakyat… masih hukum yang sama. Hukum yang memang sejak awal dibuat untuk mengekang rakyat di zaman kolonial.

Jumat, 30 Mei 2025

cinta sejati 02

Akhirnya aku masuk bersama temanku masuk ke dalam rumah temanku, tiap sudut kulihat semua tampak gelap seperti kurang terawa, badanku berkata "sebenarnya apa yang ia lakukan selama ini"

Yang mempersilahkanku duduk di ruang tamu, kurasakan rumahnya begitu kelam begitu sunyi seperti tak terurus. 
Aku tetap di sofanya, sofa yang terasa sangat dingin.
Terlihat di sofa yang berwarna biru itu ada sedikit bercak berwarna hitam aku tak tahu apa bercak itu namun entah kenapa saat aku melihat bercak itu rasanya ada yang aneh. 

Temanku berjalan ke ruang tamu sambil membawa 2 cangkir kopi sepertinya ia masih ingat saat di mana aku sering ke warung kopi dengannya sambil bercerita sambil berbagi kesenangan di balik kopi hangat yang nikmat. 

"Sudah lama kita tak bertemu, sepertinya kau sudah menikah ya?" Temanku mengawali percakapan dengan pertanyaan yang cukup mengagetkanku. 
Apa sebenarnya juga aku mau memberitahunya jika aku akan menikah bulan depan. 
"Ya sudah lama kita nggak ketemu, aku main ke sini sekedar hanya mampir dan memberitahumu bahwa bulan depan memang aku akan menikah" 

Temanku tersenyum ramah dan ia menyodorkan sebungkus rokok kepadaku, memang benar aku memang perokok tapi tak seaktif dulu. 
"Kau masih menggunakan merek yang sama ya?" Tanyaku padanya mengingatkanku pada masa lalu saat kita minum kopi bersama. 
"Soalnya memang merk ini yang selalu cocok untukku, begitu juga dengan mu kan"

Kami saling berbincang membicarakan masa lalu, sampai tanpa sadar aku telah menanyakan sesuatu yang menjadi awal terbukanya tabir kegelapan dari balik senyuman temanku.
"Kukira kau akan menikah duluan?" Tanya aku sambil menghisap rokok. 
Temanku saya ketika terdiam, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya.
Dia menatap lurus ke depan seperti  memikirkan sesuatu. 
"Aku... Sudah meninggalkannya" 

Aku sedikit kaget mendengar kata-kata dari temanku, kukira selama ini dia sudah menikah dengan wanita yang ia cintai saat itu, saat aku melihatnya di pematang sawah dengan seorang perempuan. 
"Kukira kau dengannya, jadi sekarang kau sendiri?" Tanya aku sambil menyeruput kopi. 
Iya tersenyum bahagia, di tengah senyumnya ia menjawab penuh dengan kebahagiaan. "Ya, sekarang aku sudah tidak sendiri lagi, aku selalu bersama dengan kekasihku" 
Aku merasa lega mendengarnya, mati satu tumbuh seribu mungkin seperti itu temanku berjuang untuk melewati masa-masa di mana ia terpuruk ditinggalkan seorang perempuan dan menemukan tambatan hati yang tepat. 
"Lalu kapan kau akan menikah?"
Iya terdiam, lalu mengetukkan rokoknya di atas asbak. "Aku sudah menikah, walaupun belum resmi tapi kami adalah pasangan yang serasi" 

Satu kata yang membuatku ada di tengah-tengah antara bingung senang dan ngeri 
"Lalu? Apa kalian nikah siri?" Tanya aku yang masih bingung dengan pemikiranku sendiri 
"Tidak kami tidak menikah siri, kami hanya pasangan yang mencintai sampai mati"
Aku masih bingung apa arti kata-katanya, namun aku masih berpositif thinking mungkin maksudnya adalah mereka mencintai sehidup semati selama-lamanya, namun yang jadi pemikiranku kalau dia memang mencintainya kenapa dia tidak langsung menikahinya saja kenapa harus hidup kumpul kebo seperti ini. 

Tiba-tiba bel jam berbunyi menunjukkan pukul 03.00 sore, entah apa yang dilakukan di pukul 03.00 sore oleh temanku namun ia menyuruhku untuk pergi sekarang Karena ia memiliki kesibukan yang memang harus ia lakukan di jam-jam ini.
"Maaf ya tak bisa menemanimu lama" kata temanku sambil mampir silahkan diriku untuk pamit 
"Tak apa kawan, aku hanya ingin menyampaikan cerita bahagiaku dan sedikit bertemu denganmu yang lama kita telah tak jumpa" 

Aku berdiri dari tempat dudukku berjalan menuju pintu keluar, temanku mengantarku hingga sampai depan rumah sambil melihatku ia melambat tantangan dan mengatakan "hati-hati di jalan"

Ketemuan dan temanku sangat singkat hanya berlangsung berperang panjang namun aku masih penasaran

Minggu, 25 Mei 2025

Cinta Sejati 01

Cinta sejati, mungkin itu yang diharapkan oleh semua pasangan yang sedang dimabukkan oleh cinta. Dengan cinta yang indah maka terlahirlah kehidupan yang indah. Mungkin seperti itu, 

Pagi itu aku berjalan-jalan di pematang sawah, aku melihat temanku sedang bercanda mesra dengan pacarnya begitu bahagia Mereka terlihat, aku jadi ingat temanku itu akan melamar pacarnya beberapa hari lagi. Sepertinya mereka akan hidup bahagia pikirku. 

Setelah beberapa bulan akhirnya hari itu datang, temanku menyampaikan padaku bahwasanya dia sudah melamar pacarnya dan akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi, dalam hatiku aku turut senang akhirnya temanku menemukan tambatan hatinya sekarang hanya tinggal aku yang harus mencari pasangan hidupku. 

Hari ini di pagi ini temanku akan melakukan pernikahan, aku sudah memakai pakaian yang bagus untuk menemaninya, di mana saat temanku melakukan ijab qobul yang sangat keramat bagiku atau mungkin bagi banyak orang lain. Pertampak sangat bahagia temanku dan juga istrinya, wajahnya selalu tersenyum dan hanya ada wajah syukur di antara mereka berdua wajah yang menggambarkan kasih cinta mereka. 

Ini aku sudah juga mulai mendapatkan seorang kekasih Dan aku mungkin dalam waktu dekat akan melamarnya. Masih teringat pada pikiranku temanku yang sangat bahagia pada pernikahannya saat itu, sudah sekian lama mungkin sudah ada 2 tahun aku tidak menanyakan kabarnya karena aku yang terlalu fokus untuk mengejar pekerjaanku dan segera mencukupkan diriku untuk hari di mana aku bisa menikah dengan wanita yang kucintai. Di hari ini aku akan menemui temanku itu dan memberikan kabar bahagia ini padanya, mungkin dia akan mengolok-olok ku karena sudah lama aku tak pernah menghampirinya namun tiba-tiba aku muncul dengan kabar yang sangat mencenangangkan ini.

Setelah beberapa hari aku mencari informasi, akhirnya kutemukan juga alamat temanku ini. Akhirnya aku putuskan untuk ke rumahnya.

Setelah beberapa hari berlalu.

Hari ini aku bertandang ke rumah temanku teman yang sudah lama aku lupakan walaupun tidak sepenuhnya karena dia memang teman terbaik. Sebuah rumah yang tampak biasa bahkan hampir terlihat karena kurang perawatan, apakah ini benar rumah temanku? Tapi banyak orang berkata arahnya benar ke sini dan banyak orang berkata temanku mulai gila. Apa yang terjadi pada temanku selama ini? 

Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah temanku itu, pintunya terus terkesan biasa namun memiliki aura yang sangat mengerikan atau mungkin karena banyaknya ilalang di rumah temanku membuat rumah ini menjadi sedikit horor. 

Tak lama aku dengar suara langkah kaki dari dalam rumah, kan akhirnya pintunya pintu terbuka, betapa kagetnya aku melihatnya penampilannya benar-benar berbeda dengan dulu. 

Temanku tersentak kaget saat melihatku, sepertinya ia tidak menyangka takkan bertemu denganku saat ini. Aku mengeluarkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya, wajahnya terlihat sumringah bahagia dan kaget, seperti tidak menyangka akan bertemu teman yang selama ini hilang.