Jumat, 30 Mei 2025

cinta sejati 02

Akhirnya aku masuk bersama temanku masuk ke dalam rumah temanku, tiap sudut kulihat semua tampak gelap seperti kurang terawa, badanku berkata "sebenarnya apa yang ia lakukan selama ini"

Yang mempersilahkanku duduk di ruang tamu, kurasakan rumahnya begitu kelam begitu sunyi seperti tak terurus. 
Aku tetap di sofanya, sofa yang terasa sangat dingin.
Terlihat di sofa yang berwarna biru itu ada sedikit bercak berwarna hitam aku tak tahu apa bercak itu namun entah kenapa saat aku melihat bercak itu rasanya ada yang aneh. 

Temanku berjalan ke ruang tamu sambil membawa 2 cangkir kopi sepertinya ia masih ingat saat di mana aku sering ke warung kopi dengannya sambil bercerita sambil berbagi kesenangan di balik kopi hangat yang nikmat. 

"Sudah lama kita tak bertemu, sepertinya kau sudah menikah ya?" Temanku mengawali percakapan dengan pertanyaan yang cukup mengagetkanku. 
Apa sebenarnya juga aku mau memberitahunya jika aku akan menikah bulan depan. 
"Ya sudah lama kita nggak ketemu, aku main ke sini sekedar hanya mampir dan memberitahumu bahwa bulan depan memang aku akan menikah" 

Temanku tersenyum ramah dan ia menyodorkan sebungkus rokok kepadaku, memang benar aku memang perokok tapi tak seaktif dulu. 
"Kau masih menggunakan merek yang sama ya?" Tanyaku padanya mengingatkanku pada masa lalu saat kita minum kopi bersama. 
"Soalnya memang merk ini yang selalu cocok untukku, begitu juga dengan mu kan"

Kami saling berbincang membicarakan masa lalu, sampai tanpa sadar aku telah menanyakan sesuatu yang menjadi awal terbukanya tabir kegelapan dari balik senyuman temanku.
"Kukira kau akan menikah duluan?" Tanya aku sambil menghisap rokok. 
Temanku saya ketika terdiam, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya.
Dia menatap lurus ke depan seperti  memikirkan sesuatu. 
"Aku... Sudah meninggalkannya" 

Aku sedikit kaget mendengar kata-kata dari temanku, kukira selama ini dia sudah menikah dengan wanita yang ia cintai saat itu, saat aku melihatnya di pematang sawah dengan seorang perempuan. 
"Kukira kau dengannya, jadi sekarang kau sendiri?" Tanya aku sambil menyeruput kopi. 
Iya tersenyum bahagia, di tengah senyumnya ia menjawab penuh dengan kebahagiaan. "Ya, sekarang aku sudah tidak sendiri lagi, aku selalu bersama dengan kekasihku" 
Aku merasa lega mendengarnya, mati satu tumbuh seribu mungkin seperti itu temanku berjuang untuk melewati masa-masa di mana ia terpuruk ditinggalkan seorang perempuan dan menemukan tambatan hati yang tepat. 
"Lalu kapan kau akan menikah?"
Iya terdiam, lalu mengetukkan rokoknya di atas asbak. "Aku sudah menikah, walaupun belum resmi tapi kami adalah pasangan yang serasi" 

Satu kata yang membuatku ada di tengah-tengah antara bingung senang dan ngeri 
"Lalu? Apa kalian nikah siri?" Tanya aku yang masih bingung dengan pemikiranku sendiri 
"Tidak kami tidak menikah siri, kami hanya pasangan yang mencintai sampai mati"
Aku masih bingung apa arti kata-katanya, namun aku masih berpositif thinking mungkin maksudnya adalah mereka mencintai sehidup semati selama-lamanya, namun yang jadi pemikiranku kalau dia memang mencintainya kenapa dia tidak langsung menikahinya saja kenapa harus hidup kumpul kebo seperti ini. 

Tiba-tiba bel jam berbunyi menunjukkan pukul 03.00 sore, entah apa yang dilakukan di pukul 03.00 sore oleh temanku namun ia menyuruhku untuk pergi sekarang Karena ia memiliki kesibukan yang memang harus ia lakukan di jam-jam ini.
"Maaf ya tak bisa menemanimu lama" kata temanku sambil mampir silahkan diriku untuk pamit 
"Tak apa kawan, aku hanya ingin menyampaikan cerita bahagiaku dan sedikit bertemu denganmu yang lama kita telah tak jumpa" 

Aku berdiri dari tempat dudukku berjalan menuju pintu keluar, temanku mengantarku hingga sampai depan rumah sambil melihatku ia melambat tantangan dan mengatakan "hati-hati di jalan"

Ketemuan dan temanku sangat singkat hanya berlangsung berperang panjang namun aku masih penasaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar